Hadits Shohih

Anas radhiyallahu 'anhu berkata: Ketika Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang dosa-dosa besar, maka jawabnya: Syirik mempersekutukan Allah, dan durhaka terhadap kedua ayah bunda, membunuh jiwa (manusia), dan saksi palsu. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits Shohih

Dari Ummul-Mukminin, Ummu ‘Abdillah, Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya, maka hal itu tertolak." Dalam riwayat Muslim disebutkan: “Siapa yang melakukan suatu amalan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka hal itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits Shohih

Dari Abu Ruqayyah Tamim ad-Dari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Agama itu adalah nasihat.” Kami bertanya: “Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan pemimpin kaum Muslimin dan kaum Muslimin secara umum.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits Shohih

Dari Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abu Tholib, cucu Rosululloh sholallahu 'alaihi wa sallam dan kesayangan beliau rodhiallohu 'anhuma, dia berkata: "Aku telah hafal (sabda) dari Rosululloh sholallahu 'alaihi wa sallam: "Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu." (HR. Tirmidzi dan Nasa'i. Tirmidzi berkata: Ini adalah Hadits Hasan Shahih)

Hadits Shohih

Dari Abu Hurairoh rodhiallohu 'anhu, sesungguhnya Rosululloh sholallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: "Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tamunya." (HR. Bukhori dan Muslim)

Selasa, 13 Desember 2011

WAKTU TERKABUL DOA

Berdoa Di Waktu Yang Tepat 
Diantara usaha yang bisa kita upayakan agar doa kita dikabulkan oleh Allah Ta’ala adalah dengan memanfaatkan waktu-waktu tertentu yang dijanjikan oleh Allah bahwa doa ketika waktu-waktu tersebut dikabulkan. Diantara waktu-waktu tersebut adalah: 

1. Ketika sahur atau sepertiga malam terakhir 
Allah Ta’ala mencintai hamba-Nya yang berdoa disepertiga malam yang terakhir. Allah Ta’ala berfirman tentang ciri-ciri orang yang bertaqwa, salah satunya: 
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُون 
“Ketika waktu sahur (akhir-akhir malam), mereka berdoa memohon ampunan” (QS. Adz Dzariyat: 18) 

Sepertiga malam yang paling akhir adalah waktu yang penuh berkah, sebab pada saat itu Rabb kita Subhanahu Wa Ta’ala turun ke langit dunia dan mengabulkan setiap doa hamba-Nya yang berdoa ketika itu. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: 
ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا ، حين يبقى ثلث الليل الآخر، يقول : من يدعوني فأستجيب له ، من يسألني فأعطيه ، من يستغفرني فأغفر له 
“Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman: ‘Orang yang berdoa kepada-Ku akan Ku kabulkan, orang yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Kuberikan, orang yang meminta ampunan dari-Ku akan Kuampuni‘” (HR. Bukhari no.1145, Muslim no. 758) 

Namun perlu dicatat, sifat ‘turun’ dalam hadits ini jangan sampai membuat kita membayangkan Allah Ta’ala turun sebagaimana manusia turun dari suatu tempat ke tempat lain. Karena tentu berbeda. Yang penting kita mengimani bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia, karena yang berkata demikian adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam diberi julukan Ash shadiqul Mashduq (orang jujur yang diotentikasi kebenarannya oleh Allah), tanpa perlu mempertanyakan dan membayangkan bagaimana caranya. 

Dari hadits ini jelas bahwa sepertiga malam yang akhir adalah waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak berdoa. Lebih lagi di bulan Ramadhan, bangun di sepertiga malam akhir bukanlah hal yang berat lagi karena bersamaan dengan waktu makan sahur. Oleh karena itu, manfaatkanlah sebaik-baiknya waktu tersebut untuk berdoa. 

2. Ketika berbuka puasa 
Waktu berbuka puasa pun merupakan waktu yang penuh keberkahan, karena diwaktu ini manusia merasakan salah satu kebahagiaan ibadah puasa, yaitu diperbolehkannya makan dan minum setelah seharian menahannya, sebagaimana hadits: 
للصائم فرحتان : فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه 
“Orang yang berpuasa memiliki 2 kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-Nya kelak” (HR. Muslim, no.1151) 

Keberkahan lain di waktu berbuka puasa adalah dikabulkannya doa orang yang telah berpuasa, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: 
ثلاث لا ترد دعوتهم الصائم حتى يفطر والإمام العادل و المظلوم 
‘”Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil dan doanya orang yang terzhalimi” (HR. Tirmidzi no.2528, Ibnu Majah no.1752, Ibnu Hibban no.2405, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi) 

Oleh karena itu, jangan lewatkan kesempatan baik ini untuk memohon apa saja yang termasuk kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Namun perlu diketahui, terdapat doa yang dianjurkan untuk diucapkan ketika berbuka puasa, yaitu doa berbuka puasa. Sebagaimana hadits 
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله 
“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka puasa membaca doa: 

ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله 
/Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah/ 
(‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah’)” (HR. Abu Daud no.2357, Ad Daruquthni 2/401, dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/232) 

Adapun doa yang tersebar di masyarakat dengan lafazh berikut: 
اللهم لك صمت و بك امنت و على رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الراحمين 
adalah hadits palsu, atau dengan kata lain, ini bukanlah hadits. Tidak terdapat di kitab hadits manapun. Sehingga kita tidak boleh meyakini doa ini sebagai hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. 

Oleh karena itu, doa dengan lafazh ini dihukumi sama seperti ucapan orang biasa seperti saya dan anda. Sama kedudukannya seperti kita berdoa dengan kata-kata sendiri. Sehingga doa ini tidak boleh dipopulerkan apalagi dipatenkan sebagai doa berbuka puasa. Memang ada hadits tentang doa berbuka puasa dengan lafazh yang mirip dengan doa tersebut, semisal: 
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال : اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت فتقبل مني إنك أنت السميع العليم 
“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka membaca doa: Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu fataqabbal minni, innaka antas samii’ul ‘aliim” 

Dalam Al Futuhat Ar Rabbaniyyah (4/341), dinukil perkataan Ibnu Hajar Al Asqalani: “Hadits ini gharib, dan sanadnya lemah sekali”. Hadits ini juga di-dhaif-kan oleh Al Albani di Dhaif Al Jami’ (4350). Atau doa-doa yang lafazh-nya semisal hadits ini semuanya berkisar antara hadits dhaif atau munkar. 

3. Ketika malam lailatul qadar 
Malam lailatul qadar adalah malam diturunkannya Al Qur’an. Malam ini lebih utama dari 1000 bulan. Sebagaimana firmanAllah Ta’ala: 
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ 
“Malam Lailatul Qadr lebih baik dari 1000 bulan” (QS. Al Qadr: 3) 

Pada malam ini dianjurkan memperbanyak ibadah termasuk memperbanyak doa. Sebagaimana yang diceritakan oleh Ummul Mu’minin Aisyah Radhiallahu’anha: 
قلت يا رسول الله أرأيت إن علمت أي ليلة ليلة القدر ما أقول فيها قال قولي اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني 
“Aku bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, menurutmu apa yang sebaiknya aku ucapkan jika aku menemukan malam Lailatul Qadar? Beliau bersabda: Berdoalah: 
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني 
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni ['Ya Allah, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dan menyukai sifat pemaaf, maka ampunilah aku'']”(HR. Tirmidzi, 3513, Ibnu Majah, 3119, At Tirmidzi berkata: “Hasan Shahih”) 

Pada hadits ini Ummul Mu’minin ‘Aisyah Radhiallahu’anha meminta diajarkan ucapan yang sebaiknya diamalkan ketika malam Lailatul Qadar. Namun ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan lafadz doa. Ini menunjukkan bahwa pada malam Lailatul Qadar dianjurkan memperbanyak doa, terutama dengan lafadz yang diajarkan tersebut. 

4. Ketika adzan berkumandang 
Selain dianjurkan untuk menjawab adzan dengan lafazh yang sama, saat adzan dikumandangkan pun termasuk waktu yang mustajab untuk berdoa. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: 
ثنتان لا تردان أو قلما تردان الدعاء عند النداء وعند البأس حين يلحم بعضهم بعضا 
“Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang” (HR. Abu Daud, 2540, Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Nata-ijul Afkar, 1/369, berkata: “Hasan Shahih”) 

5. Di antara adzan dan iqamah 
Waktu jeda antara adzan dan iqamah adalah juga merupakan waktu yang dianjurkan untuk berdoa, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: 
الدعاء لا يرد بين الأذان والإقامة 
“Doa di antara adzan dan iqamah tidak tertolak” (HR. Tirmidzi, 212, ia berkata: “Hasan Shahih”) 

Dengan demikian jelaslah bahwa amalan yang dianjurkan antara adzan dan iqamah adalah berdoa, bukan shalawatan, atau membaca murattal dengan suara keras, misalnya dengan menggunakan mikrofon. Selain tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, amalan-amalan tersebut dapat mengganggu orang yang berdzikir atau sedang shalat sunnah. Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, 
لا إن كلكم مناج ربه فلا يؤذين بعضكم بعضا ولا يرفع بعضكم على بعض في القراءة أو قال في الصلاة 
“Ketahuilah, kalian semua sedang bermunajat kepada Allah, maka janganlah saling mengganggu satu sama lain. Janganlah kalian mengeraskan suara dalam membaca Al Qur’an,’ atau beliau berkata, ‘Dalam shalat’,” (HR. Abu Daud no.1332, Ahmad, 430, dishahihkan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Nata-ijul Afkar, 2/16). 

Selain itu, orang yang shalawatan atau membaca Al Qur’an dengan suara keras di waktu jeda ini, telah meninggalkan amalan yang di anjurkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, yaitu berdoa. Padahal ini adalah kesempatan yang bagus untuk memohon kepada Allah segala sesuatu yang ia inginkan. Sungguh merugi jika ia melewatkannya. 

6. Ketika sedang sujud dalam shalat 
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: 
أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد . فأكثروا الدعا 
“Seorang hamba berada paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia sedang bersujud. Maka perbanyaklah berdoa ketika itu” (HR. Muslim, no.482) 

7. Ketika sebelum salam pada shalat wajib 
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: 
قيل يا رسول الله صلى الله عليه وسلم أي الدعاء أسمع قال جوف الليل الآخر ودبر الصلوات المكتوبات
“Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, kapan doa kita didengar oleh Allah? Beliau bersabda: “Diakhir malam dan diakhir shalat wajib” (HR. Tirmidzi, 3499) 

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam Zaadul Ma’ad (1/305) menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘akhir shalat wajib’ adalah sebelum salam. Dan tidak terdapat riwayat bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabat merutinkan berdoa meminta sesuatu setelah salam pada shalat wajib. Ahli fiqih masa kini, Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata: “Apakah berdoa setelah shalat itu disyariatkan atau tidak? Jawabannya: tidak disyariatkan. Karena Allah Ta’ala berfirman: 
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ 
“Jika engkau selesai shalat, berdzikirlah” (QS. An Nisa: 103). Allah berfirman ‘berdzikirlah’, bukan ‘berdoalah’. Maka setelah shalat bukanlah waktu untuk berdoa, melainkan sebelum salam” (Fatawa Ibnu Utsaimin, 15/216). 

Namun sungguh disayangkan kebanyakan kaum muslimin merutinkan berdoa meminta sesuatu setelah salam pada shalat wajib yang sebenarnya tidak disyariatkan, kemudian justru meninggalkan waktu-waktu mustajab yang disyariatkan yaitu diantara adzan dan iqamah, ketika adzan, ketika sujud dan sebelum salam. 

8. Di hari Jum’at 
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, 
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر يوم الجمعة ، فقال : فيه ساعة ، لا يوافقها عبد مسلم ، وهو قائم يصلي ، يسأل الله تعالى شيئا ، إلا أعطاه إياه . وأشار بيده يقللها 
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyebutkan tentang hari Jumat kemudian beliau bersabda: ‘Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta’. Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut” (HR. Bukhari 935, Muslim 852 dari sahabat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu) 

Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari ketika menjelaskan hadits ini beliau menyebutkan 42 pendapat ulama tentang waktu yang dimaksud. Namun secara umum terdapat 4 pendapat yang kuat.

Pendapat pertama, yaitu waktu sejak imam naik mimbar sampai selesai shalat Jum’at, berdasarkan hadits:
هي ما بين أن يجلس الإمام إلى أن تقضى الصلاة 
“Waktu tersebut adalah ketika imam naik mimbar sampai shalat Jum’at selesai” (HR. Muslim, 853 dari sahabat Abu Musa Al Asy’ari Radhiallahu’anhu). 
Pendapat ini dipilih oleh Imam Muslim, An Nawawi, Al Qurthubi, Ibnul Arabi dan Al Baihaqi. 

Pendapat kedua, yaitu setelah ashar sampai terbenamnya matahari. Berdasarkan hadits: 
يوم الجمعة ثنتا عشرة يريد ساعة لا يوجد مسلم يسأل الله عز وجل شيئا إلا أتاه الله عز وجل فالتمسوها آخر ساعة بعد العصر 
“Dalam 12 jam hari Jum’at ada satu waktu, jika seorang muslim meminta sesuatu kepada Allah Azza Wa Jalla pasti akan dikabulkan. Carilah waktu itu di waktu setelah ashar” (HR. Abu Daud, no.1048 dari sahabat Jabir bin Abdillah Radhiallahu’anhu. Dishahihkan Al Albani di Shahih Abi Daud). Pendapat ini dipilih oleh At Tirmidzi, dan Ibnu Qayyim Al Jauziyyah. Pendapat ini yang lebih masyhur dikalangan para ulama. 

Pendapat ketiga, yaitu setelah ashar, namun diakhir-akhir hari Jum’at. Pendapat ini didasari oleh riwayat dari Abi Salamah. Ishaq bin Rahawaih, At Thurthusi, Ibnul Zamlakani menguatkan pendapat ini. 

Pendapat keempat, yang juga dikuatkan oleh Ibnu Hajar sendiri, yaitu menggabungkan semua pendapat yang ada. Ibnu ‘Abdil Barr berkata: “Dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa pada dua waktu yang disebutkan”. Dengan demikian seseorang akan lebih memperbanyak doanya di hari Jum’at tidak pada beberapa waktu tertentu saja. Pendapat ini dipilih oleh Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu ‘Abdil Barr. 

9. Ketika turun hujan 
Hujan adalah nikmat Allah Ta’ala. Oleh karena itu tidak boleh mencelanya. Sebagian orang merasa jengkel dengan turunnya hujan, padahal yang menurunkan hujan tidak lain adalah Allah Ta’ala. Oleh karena itu, daripada tenggelam dalam rasa jengkel lebih baik memanfaatkan waktu hujan untuk berdoa memohon apa yang diinginkan kepada Allah Ta’ala: 
ثنتان ما تردان : الدعاء عند النداء ، و تحت المطر 
“Doa tidak tertolak pada 2 waktu, yaitu ketika adzan berkumandang dan ketika hujan turun” (HR Al Hakim, 2534, dishahihkan Al Albani di Shahih Al Jami’, 3078) 

10. Hari Rabu antara Dzuhur dan Ashar 
Sunnah ini belum diketahui oleh kebanyakan kaum muslimin, yaitu dikabulkannya doa diantara shalat Zhuhur dan Ashar dihari Rabu. Ini diceritakan oleh Jabir bin Abdillah Radhiallahu’anhu: 
أن النبي صلى الله عليه وسلم دعا في مسجد الفتح ثلاثا يوم الاثنين، ويوم الثلاثاء، ويوم الأربعاء، فاستُجيب له يوم الأربعاء بين الصلاتين فعُرِفَ البِشْرُ في وجهه 
قال جابر: فلم ينزل بي أمر مهمٌّ غليظ إِلاّ توخَّيْتُ تلك الساعة فأدعو فيها فأعرف الإجابة 
“Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam berdoa di Masjid Al Fath 3 kali, yaitu hari Senin, Selasa dan Rabu. Pada hari Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu diantara dua shalat. Ini diketahui dari kegembiraan di wajah beliau. Berkata Jabir : ‘Tidaklah suatu perkara penting yang berat pada saya kecuali saya memilih waktu ini untuk berdoa,dan saya mendapati dikabulkannya doa saya‘” 

Dalam riwayat lain: 
فاستجيب له يوم الأربعاء بين الصلاتين الظهر والعصر 
“Pada hari Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu di antara shalat Zhuhur dan Ashar” (HR. Ahmad, no. 14603, Al Haitsami dalam Majma Az Zawaid, 4/15, berkata: “Semua perawinya tsiqah”, juga dishahihkan Al Albani di Shahih At Targhib, 1185) 

11. Ketika Hari Arafah 
Hari Arafah adalah hari ketika para jama’ah haji melakukan wukuf di Arafah, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah. Pada hari tersebut dianjurkan memperbanyak doa, baik bagi jama’ah haji maupun bagi seluruh kaum muslimin yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Sebab Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: 
خير الدعاء دعاء يوم عرفة 
“Doa yang terbaik adalah doa ketika hari Arafah” (HR. At Tirmidzi, 3585. Di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi) 

12. Ketika Perang Berkecamuk 
Salah satu keutamaan pergi ke medan perang dalam rangka berjihad di jalan Allah adalah doa dari orang yang berperang di jalan Allah ketika perang sedang berkecamuk, diijabah oleh Allah Ta’ala. Dalilnya adalah hadits yang sudah disebutkan di atas: 
ثنتان لا تردان أو قلما تردان الدعاء عند النداء وعند البأس حين يلحم بعضهم بعضا 
“Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang” (HR. Abu Daud, 2540, Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Nata-ijul Afkar, 1/369, berkata: “Hasan Shahih”) 

13. Ketika Meminum Air Zam-zam 
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: 
ماء زمزم لما شرب له 
“Khasiat Air Zam-zam itu sesuai niat peminumnya” (HR. Ibnu Majah, 2/1018. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah, 2502) 

Demikian uraian mengenai waktu-waktu yang paling dianjurkan untuk berdoa. Mudah-mudahan Allah Ta’ala mengabulkan doa-doa kita dan menerima amal ibadah kita. 
Amiin Ya Mujiibas Sa’iliin. 

Penulis : Yulian Purnama pada http://www.muslim.or.id 
Sumber : http://www.muslim.or.id

Sabtu, 10 Desember 2011

HUKUM GAMBAR DALAM ISLAM

Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh.
Gambar. Sejak TK kita sudah diajarkan menggambar oleh guru kita. Tapi apakah hukum menggambar dalam Islam? Sedangkan banyak sekali orang yang gemar menggambar dan melukis. Termasuk diantaranya saya, saya memang suka sekali menggambar dan melukis sejak kecil. Maka dari itu bagi sobat blogger yang ingin tahu apa hukum menggambar dalam Islam, alangkah baiknya membaca artikel ringan di bawah ini.

Di antara fitnah besar yang sedang menimpa umat Islam dewasa ini adalah fitnah gambar. Hampir di setiap rumah dari rumah-rumah kaum Muslimin di setiap sudut-sudut rumah terpajang dan terpampang gambar-gambar atau foto-foto mereka sendiri, foto keluarga, gambar hewan, dan gambar makhluk bernyawa lainnya. Ironisnya, di antara mereka ada juga yang menaruh jelas patung-patung manusia, dewa-dewa, maupun hewan yang terpajang indah bak berhala. Naudzubillah...

Apakah mereka tahu jika para malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat gambar bernyawa sebagaimana telah ditegaskan Rasulullah SAW 14 abad yang lalu? Syaikh Shalih bin Fauzan berkata, “Setan menyemangati dan mengajak manusia untuk membuat gambar karena memang di dalam gambar terdapat sejumlah marabahaya bagi mereka. Maka setan mengajak mereka untuk membuat gambar agar manusia memikul beban-beban dosa (akibat gambar tersebut).”

Macam-macam gambar
Jika ditinjau dari hidup dan tidaknya, terbagi menjadi dua yaitu:
1. Gambar bernyawa
Terbagi menjadi dua bagian, yaitu gambar yang mempunyai ruh yang mirip sekali dengan bentuk dan warna manusia dan gambar yang bernyawa berupa hewan-hewan yang tidak berakal, seperti harimau, singa, serangga, dsb.

2. Gambar tidak bernyawa
Terbagi menjadi dua bagian, yaitu gambar makhluk yang tumbuh, semisal tanaman pertanian, tumbuh-tumbuhan, pepohonan yang memiliki buah maupun tidak dan gambar makhluk yang tidak tumbuh, semisal gunung, sungai, rumah, pesawat, dsb.

Jika ditinjau dari bentuk dan keadaannya, terbagi menjadi dua yaitu:
1. Gambar yang mempunyai fisik nyata dan bayangan (3 dimensi), contohnya patung
2. Gambar yang dibuat pada permukaan datar (2 dimensi), contohnya lukisan, foto-foto, tenunan, dsb

Dalil-dalil seputar gambar
Abdullah bin Abbas berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang menggambar (akan masuk) ke neraka, akan dijadikan baginya setiap gambar yang telah ia gambar jiwa yang ia akan diazab bersama gambar tersebut dalam neraka Jahannam.” (H.R. Bukhari:5693 dan Muslim:2110)

Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang ada anjing dan gambar.” (H.R. Bukhari:3225 dan Muslim:2106)

Dari ‘Aisyah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat adalah mereka yang berusaha menyerupai ciptaan Allah SWT.” (H.R. Bukhari:5950 dan Muslim:2109)

Dari Abu Hayyaj al-Asadi Hayyan bin Husain berkata, Ali berkata kepadaku: “Ketahuilah aku akan mengutusmu terhadap apa yang Rasulullah SAW mengutusku, (yaitu) jangan kamu tinggalkan gambar kecuali kamu hancurkan dan tidak pula kuburan yang ditinggikan kecuali telah kamu ratakan.” (H.R. Muslim:969)

Hukum Gambar
Adapun hukum gambar secara umum berdasarkan dalil-dalil di atas, sbb:
1. Gambar yang tidak punya ruh, apakah yang mempunyai fisik nyata (3 dimensi) atau bidang datar (2 dimensi) maka hukumnya menurut pendapat yang kuat adalah tidak mengapa atau mubah atau boleh.

2. Gambar yang memiliki ruh atau nyawa, apakah dalam bidang datar atau dalam bentuk fisik nyata maka hukumnya adalah haram berdasarkan dalil-dalil di atas dan lainnya. Wallahu a’lam.

Diantara sebab diharamkannya gambar yang memiliki ruh
1. Menyerupai ciptaan Allah SWT (menandingi Allah SWT dalam penciptaan)
Rasulullah SAW bersabda, ”Orang yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah orang yang berusaha membuat ciptaan semisal ciptaan Allah SWT.” (H.R. Bukhari:5949 dan Muslim:92) Sama saja diiringi niat menandingi Allah SWT atau pun tidak, maka masuk dalam keharaman.

2. Jalan yang menghantarkan dari sikap berlebih-lebihan (ghuluw), bahkan menyeret menjadikannya sembahan selain Allah SWT
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya mereka itu (Nasrani) jika ada orang shalih diantara mereka kemudian wafat maka mereka membangun masjid di atas kuburannya, dan membuat gambar padanya.” (H.R. Bukhari:428 dan Muslim:16)

Abdullah bin Abbas berkata tatkala menafsirkan surah Nuh ayat 23: “Ini adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nuh tatkala mereka wafat maka setan membisikkan pada mereka agar membuat patung pada majelis orang shalih tersebut dan memberikan nama pada mereka, maka mereka pun melakukannya dan belum disembah. Maka tatkala mereka (generasi yang membuat patung) wafat dan ilmu dilupakan akhirnya patung tersebut dijadikan sembahan.” (H.R. Bukhari:4920)

3. Mirip dengan orang-orang yang membuat gambar dan patung kemudian mereka menyembahnya
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk mereka.” (Hadits Hasan Shahih-Shahih Sunan Abu Dawud:4031)

4. Menghalangi malaikat untuk masuk ke rumahnya
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya malaikat tidak akan masuk ke rumah yang didalamnya ada gambar.” (H.R. Bukhari:5949 dan Muslim:83)

5. Termasuk tindakan membuang-buang harta benda (tabdzir)
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan bergeser kedua telapak kaki anak Adam hingga ia ditanya tentang empat perkara, (1) tentang umurnya kemana ia habiskan, (2) masa mudanya ke mana ia habiskan, (3) hartanya darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan, dan (4) tentang ilmunya apa yang ia perbuat dengannya.” (H.R. Tirmidzi:2416, Shahih Tirmidzi:2/572 dan as-Shahihah:946)

Ancaman berat bagi tukang gambar dan bahaya gambar:
1. Jalan menuju maksiat dan puncaknya adalah syirik pada Allah SWT.
2. Menggambar termasuk dosa besar karena ancaman-ancaman yang ada.
3. Malaikat menjauh dan tidak mau mendekat rumah yang terdapat gambar.
4. Pada hari kiamat kelak ia akan mendapatkan azab yang amat keras.
5. Pada hari kiamat kelak gambar tersebut akan diwujudkan berupa fisik nyata (tubuh) lalu ia pun diazab di Jahannam bersama gambar tersebut.
6. Dibebankan padanya untuk memberikan ruh pada gambar yang telah ia gambar semasa di dunia padahal ia tidak akan sanggup akan melakukannya.
7. Tempatnya dalam api neraka.
8. Mendapatkan laknat.

Kapan gambar dibolehkan?
Syaikh al-Albani berkata: “Walaupun kami berpendapat secara yakin akan haramnya gambar dengan dua jenisnya (proses alat dan tangan), tapi kami tidak melarang (mengharamkan) jika dalam tujuan gambar tersebut ada manfaat yang pasti, dan tanpa ada unsur bahayanya, seperti gambar yang dibutuhkan dalam ilmu kedokteran, geografi, memajang gambar untuk menangkap buronan, maka ini boleh. Bahkan sebagiannya menjadi wajib bagi beberapa keadaan.” Kemudian Syaikh al-Albani membawakan dua hadits yang menunjukkan akan bolehnya gambar pada kondisi-kondisi tertentu.

Hadits pertama hadits ‘Aisyah, dimana beliau bermain-main dengan boneka-boneka bersama teman-temannya tanpa ada pengingkaran dari Rasululah SAW. Kedua hadits ar-Rabi’ bin al-Mu’awwidz, dimana para sahabat membuatkan mainan dari bulu domba untuk anak-anak mereka agar tak minta makanan tatkala mereka berpuasa.

Lantas Syaikh menyampaikan, “Dua hadits ini menunjukkan akan bolehnya gambar dan menggunakan gambar jika ditemukan manfaat pendidikan yang membantu perbaikan jiwa, bimbingan, dan pengajaran. Maka diikutkan pula perkara-perkara yang ada maslahatnya bagi Islam dan kaum Muslimin dari proses gambar dan gambar itu sendiri. Dan kembali pada hukum asal (yaitu haram) selain hal itu (yang tidak ada maslahatnya) semisal gambar para pendahulu, orang-orang yang dimuliakan (dikeramatkan), para teman, dan semisal dengan ini yang tidak ada faedahnya, bahkan disitu ada unsur tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang kafir dan para penyembah berhala. Wallahu a’lam.” (Adabuz Zifaaf:194-196)
Wassalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh.

Sumber Referensi:
· Buletin Al Furqon tahun ke-6 Vol.9 No.4 (Muharram 1433 H) oleh Abu Dawud Ibnu Zainan
· ‘I ‘aanatul Mustafiid bi Syarhi Kitaabittauhiid, 2/267
· Ahkaamut Tashwiir: 147-161, dengan sedikit perubahan dan penambahan
· Al-Qauluul Mufiid, 2/438, Fathul Majid: 2/797-798
· Al-Qauluul Mufiid, 2/449 dengan beberapa penambahan lainnya
· Fiqhun Nawaazil, 4/333 oleh Muhammad bin Husain Al-Jizani

Rabu, 16 Maret 2011

MERAIH AMPUNAN ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA

Diterjemahkan Oleh: Abu Fatah Amrulloh dari Penjelasan Hadits Arba’in No. 42 Syaikh Shalih bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh hafizhohulloh
Murojaah: Ustadz Abu Ukasyah Aris Munandar 

Dan dari Anas bin Malik radhiallohu ‘anhu beliau berkata: Rosululloh shalallohu ‚alaihi wa sallam bersabda: “Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: ‘Wahai anak adam, sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak akan memperdulikannya lagi. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu memenuhi seluruh langit, kemudian engkau memohon ampun padaku, niscaya Aku akan mengampunimu. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menjumpaiku dalam keadaan tidak berbuat syirik dengan apapun niscaya aku akan datang kepadamu dengan pengampunan sepenuh bumi pula. (HR Tirmidzi, beliau berkata: “hadits ini hasan”) Wallohu a’lam, semoga sholawat tercurah pada nabi Muhammad. 

Penjelasan:
Dari Anas radhiallohu ‘anhu beliau berkata: Saya mendengar Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: [Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,’ Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak akan memperdulikannya lagi] Yang dimaksud [“Anak Adam”] pada perkataan ini adalah seorang muslim yang mengikuti risalah rosul yang diutus kepadanya. Maka orang-orang yang mengikuti risalah nabi Musa ‘alaihi salam pada zamannya, maka dia termasuk orang yang diseru dengan panggilan ini. Orang-orang yang mengikuti risalah nabi Isa ‘alaihi salam pada zamannya, maka dia juga termasuk orang yang diseru dengan panggilan ini. Adapun setelah diutusnya Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang yang mendapatkan balasan dan keutamaan seperti yang disebutkan dalam hadits ini adalah mereka yang mengikuti Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, beriman bahwa risalah yang beliau bawa adalah penutup risalah para nabi, mengakui kenabian dan risalah yang beliau bawa dan mengikuti petunjuk beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. 

Alloh jalla wa ‘ala berfirman pada hadits ini: [Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak akan memperdulikannya lagi] Kalimat ini memiliki makna yang serupa dengan firman Alloh jalla wa ‘ala: 

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa[1314] semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Az Zumar: 53) 

[1314] Dalam hubungan ini Lihat surat An Nisa ayat 48. 

Jika seorang hamba melakukan perbuatan dosa kemudian segera bertaubat, berdoa kepada Alloh jalla wa ‘ala agar Ia mengampuninya serta mengharapkan ampunan-Nya, maka Alloh akan mengampuni dosa-dosanya selama dia bertaubat karena taubat itu menghapus dosa-dosa sebelumnya”. 

Kemudian Alloh jalla wa ‘ala berfirman pada hadits ini: “sesungguhnya jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku”. Kalimat ini menjelaskan bahwa doa disertai dengan harapan akan menyebabkan Alloh mengabulkan permohonan ampun. Ada sebagian orang yang berdoa pada Robb-Nya dengan harapan yang lemah dan tidak berhusnuzhon pada Robb-Nya padahal Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,”Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: ‘Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku pada-Ku maka hendaklah berprasangka pada-Ku sebagaimana dia kehendaki”. Jika seorang hamba berdoa untuk memohon ampun atas segala dosa-dosanya maka hendaknya dia berdoa untuk memohon ampun pada Alloh dengan berkeyakinan bahwa Alloh memiliki kemurahan yang sangat besar dan dia berharap bahwa Alloh akan mengampuni dosa-dosanya. Orang yang melakukan hal ini, niscaya Alloh akan mengampuni dosa-dosanya.

Maka jika seseorang telah memiliki rasa harap yang sangat besar pada Alloh dan yakin bahwa Alloh akan mengampuninya niscaya dia akan mendapatkan apa yang ia cari. Hal tersebut dikarenakan besarnya rasa harap dan prasangka yang baik pada Alloh. Banyak ibadah-ibadah hati (ibadah qolbiyyah) yang harus dilakukan oleh seorang pelaku dosa ketika memohon ampun dan bertaubat. Banyak ibadah-ibadah hati yang harus dilakukan agar perbuatan dosa diampuni sebagai karunia dan kemuliaan dari Alloh jalla wa ‘ala. 

Kemudian Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: “niscaya Aku akan mengampunimu”. Pengampunan (المغفرة) memiliki makna menutup bekas-bekas dosa di dunia dan akhirat. Pengampunan tidak sama dengan menerima taubat, karena pengampunan memiliki makna menutup (ستر). Mengampuni sesuatu (غفر الشيء) memiliki makna menutup sesuatu (ستره). Menutup dosa-dosa memiliki makna bahwa Alloh jalla wa ‘ala akan menutup dampak-dampak dosa di dunia dan akhirat. dampak dosa di dunia adalah balasan atas perbuatan dosa tersebut di dunia, sedangkan dampak dosa di akhirat adalah balasan atas perbuatan dosa tersebut di akhirat. Barang siapa yang memohon ampun pada Alloh jalla wa ‘ala maka dia akan diampuni oleh Alloh. Barang siapa yang meminta pada Alloh agar Ia menutupi dampak dosanya di dunia dan akhirat maka Alloh akan menutupinya. Alloh akan menutup dampak dosa-dosanya dengan tidak memberikan balasan atas dosanya di dunia dan akhirat. 

Kemudian Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: [Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu memenuhi seluruh langit]. Dosa tersebut memenuhi langit (awan yang tinggi) karena jumlahnya yang banyak dan bertumpuk-tumpuk. 

Kemudian Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: [kemudian engkau memohon ampun pada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu]. Perbuatan ini adalah perbuatan seorang hamba yang bertaubat dan mencintai Robbnya dengan kecintaan yang mendalam. Karena Alloh -Yang Maha Agung, Yang Memiliki nama dan sifat yang mulia, indah dan sempurna, yang menguasai seluruh kerajaan, Dialah yang menguasai dan melindungi segala sesuatu, yang memiliki berbagai macam nama dan sifat yang agung dan mulia- akan mencintai hambanya dengan kecintaan seperti ini. Maka tidak diragukan lagi, hal ini akan membuat hati mencintai Robbnya, merasa hina di hadapan-Nya dan mendahulukan ridho-Nya daripada ridho selain-Nya. 

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: [Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu memenuhi seluruh langit kemudian engkau memohon ampun padaku, niscaya Aku akan mengampunimu]. Dalam kalimat ini terdapat dorongan untuk senantiasa memohon ampunan. Jika engkau berbuat dosa maka beristigfarlah karena sesungguhnya tidak cukup istigfar kita walaupun dilakukan sebanyak 70 kali dalam setiap hari seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits. Dengan beristigfar dan menyesal maka Alloh akan mengampuni segala dosa.


Kemudian Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: "Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menjumpaiku dalam keadaan tidak berbuat syirik dengan apapun niscaya aku akan datang kepadamu dengan pengampunan sepenuh bumi pula". Jika anak Adam datang dengan dosa sepenuh bumi, kemudian menjumpai Alloh dalam keadaan memurnikan ibadah hanya untuk-Nya dan tidak berbuat syirik kepada-Nya baik syirik besar, syirik kecil maupun syirik yang tersembunyi, hatinya ikhlas hanya kepada Alloh, tidak ada pada hatinya kecuali Alloh dan tidak merasa cemas kecuali hanya kepada-Nya, tidak berharap kecuali hanya kepada-Nya, tidak berbuat syirik dalam bentuk apapun pada-Nya, niscaya Alloh jalla wa ‘ala akan mengampuni seluruh dosa-dosanya. 

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: “kemudian engkau menjumpaiku dalam keadaan tidak berbuat syirik dengan apapun niscaya aku akan datang kepadamu dengan pengampunan sepenuh bumi pula”. Hal ini menunjukkan kebaikan dan besarnya rahmat Alloh pada para hamba-Nya. 

Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas nama-nama dan sifat-Mu. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas nikmat syariat Islam yang engkau berikan pada kami. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas nikmat diutusnya nabi-Mu Muhammad ‘alaihi sholatu wa sallam yang engkau berikan pada kami. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas anugerah yang engkau berikan pada kami untuk mengikuti jalan para salafushalih. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas anugerah-Mu pada kami berupa ampunan untuk segala dosa, menunjukkan pada perbuatan baik, dan mengampuni segala kesalahan. Ya Alloh segala puji bagi-Mu atas nikmat-Mu yang Agung. Ya Alloh segala puji bagi-Mu dan engkaulah yang paling berhak untuk mendapatkan seluruh pujian.