(Part I)
Kisah ini sebenarnya ga penting-penting amat. Hanya sekedar coret-coretan hasil dari banyaknya tugas kuliah yang menumpuk, ya apalagi kalau bukan tugas AKM, Lab, Pajak, SIA, Makro, dan sejenisnya. Lho kok bisa? Iya, saking banyaknya tugas, otak jadi penat, dan alhasil otak saya ingin di-refresh. Salah satu kegiatan untuk nge-refresh otak ya dengan nulis tulisan ini (menurut saya lho). Tentunya tulisan ini dibuat setelah semua tugas selesai (Alhamdulillah \(^_^)/).
Haha...sudah lah, ga usah ngebahas tugas kuliah dulu. Begini ceritanya...
Berawal dari diteleponnya saya oleh pihak PT Missi Idea/PT Unilever Indonesia Tbk. (lupa dulu PT mana ya..hehe..), bahwa dalam percakapan singkat tersebut kata pihak PT saya memenangkan hadiah Sepeda Polygon Monarch 2.0 dari undian Rexona Bike Adventure. Alhamdulillah senangnya bukan main (mimpi apa saya semalam), dan saat saya buka notes Fan Page Rexona di Facebook, ternyata benar ada nama saya di situ. Tentu senangnya bukan main, Alhamdulillah Ahamdulillah dan Alhamdulillah...
Singkat cerita, surat pemberitahuan sebagai pemenang (sebagai syarat pengambilan sepeda) dari PT Unilever Indonesia Tbk sampai. Tertera jelas di surat tersebut tanggal 10 November 2011. Tempat pengambilan hadiah pun sudah dicantumkan, yakni di Rodalink Ruko Melati Mas Residence Blok SR No.01 Bumi Serpong Damai (BSD), Serpong, Kota Tangerang Selatan. Sebetulnya letak kos-kosanku dengan tempat pengambilan hadiah sih ga jauh-jauh amat. Masih dalam satu kota hanya beda kecamatan saja, Pondok Aren-Serpong. Tapi yang membuatku bingung itu naik apa ya saya besok ke sana? Padahal setahu saya kalau mau ke BSD ya harus melewati jalan tol. Nah lo, mobil belum punya, mau naik angkot masa’ sih iya angkot lewat jalan tol? Kalo mau nebeng mobil teman, nebeng siapa coba? Bingung pun mendera.
Ada ide, cari tahu informasi di grup facebook. Alhamdulillah banyak informasi yang saya dapatkan. Atas berbagai saran dari teman-teman, saya pun memutuskan untuk mencoba naik angkot dan dilanjutkan dengan naik bus Agramas.
Hari itupun tiba, Kamis pagi menjelang siang, tanggal 1 Desember 2011. Sudah jangka waktu 20 hari dari tanggal yang tertera di surat peberitahuan. Cukup lama memang, karena selama dua pekan terakhir saya sedang UTS dan dilanjutkan sibuk dengan liburan ke Dufan (tanggal 30 November 2011) bersama teman-teman sekelas (maklum, ada promo). Tak lupa saya pun mengajak teman kosan. Ternyata yang bersedia ikut menemani adalah dua teman kos saya, sebut saja mereka Putut dan Depe. Kata mereka sih ya sekali-kali refreshing abis UTS lah. Alhamdulillah ada yang menemani...
Langsung saja, dari gerbang kampus Jalan Ceger kami naik angkot C09 ke arah timur sampai lampu merah di Jalan Veteran. Setelah itu tak lama datanglah bus yang ditunggu, bus Agramas ke arah tol Pondok Ranji-BSD. Tak lama kemudian, akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Kami pun masuk dengan tampang tanpa dosa.
“Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?” kata mbak-mbaknya menyapa kami.
“Oh, iya mbak. Saya mau mengambil hadiah dari undian Rexona Bike Adventure.” jawabku.
“Boleh saya lihat surat pemberitahuannya, Mas?” katanya.
“Ini mbak, silakan.” kataku sambil menyodorkan surat itu kepadanya.
Sekilas setelah dia membaca, langsung berkata, “Oh undian yang ini ya Mas? Maaf, dari Polygonnya sendiri belum mendatangkan sepedanya ke sini.”
“Lho, bukannya ini tuh sudah lama ya Mbak? Kan sudah 20 hari.” kataku.
“Iya Mas, dari polygonnya sendiri belum mendatangkan hadiahnya. Kemarin juga ada pemenang lain yang ke sini buat ngambil hadiah sama kaya’ Masnya. Tapi sepedanya juga belum dikirim.” Katanya padaku.
Akupun berpikir, sudah 20 hari kok sepedanya belum datang juga. Apa mungkin harus 21 hari kaya’ ayam ngeremin telurnya sepedanya pun baru didatangkan?
Akupun tak mau kalah. Sedikit maksa akupun bertanya, “Kalau diganti dengan sepeda yang bukan hadiah tapi yang masih satu tipe boleh ga Mbak?”
“Waduuh, Mas. Kalo itu sih ga boleh. Kan ada peraturannya. Terus juga stock sepeda tipe punya Masnya kebetulan kosong.” jawabnya.
“Oh gitu ya Mbak. Yaudah deh Mbak ntar kalo sepedanya sudah datang tolong saya ditelpon ya.” Kataku sambil menuliskan nomor hape-ku kepada pihak Rodalink.
“Oke, Mas.” Katanya.
Setelah percakapan tersebut kamipun melihat-lihat berbagai macam sepeda beserta aksesoris-aksesorisnya yang berada di dalam showroom tersebut. Hal ini membuat kami ngiler ingin membelinya, mulai dari sepedanya sendiri, helm, ransel, kaos, celana, sepatu, dan aksesoris sepeda lainnya. Tapi kamipun sadar, harga itu merupakan harga yang sangaaaat mahal bagi kami sebagai anak kos. Jatah uang bulanan sampai 3 tahun pun mungkin belum bisa untuk membelinya (haha...hiperbola banget), mimpi banget (kerja aja belom, mau nggaya segala).
Pukul 12.30, setelah kami puas melihat-lihat “all about bicycle and the accessories”, dengan sedikit rasa kecewa kami pun menyegerakan pulang. Sama seperti tadi, naik bus Agramas dilanjutkan angkot C09. Pukul 13.45 kami tiba di kosan, tak lupa saya meminta maaf kepada Putut dan Depe karena sudah capek-capek ikut mengantar ternyata hasilnya nihil. Hari itu begitu melelahkan dan mengecewakan. Oiya, berikut rincian biaya mBolang geje hari Kamis lalu:
- Naik angkot C09 (gerbang kampus-Veteran) : Rp 6000 (PP)
- Naik bus Agramas (Veteran-BSD) : Rp 8000 (PP)
- Total Cost : Rp 14000 (PP)
(Part II)
Dan sore itu, saya pun ditelepon oleh pihak Rodalink BSD, katanya hadiah sepeda saya sudah ada dan harap Mas segera mengambilnya, tepatnya hari Sabtu, 10 Desember 2011 pukul 16.30 WIB. Kebetulan sejak Sabtu pagi sudah ada tanda-tanda mau sakit. Eh, ternyata beneran suhu badan jadi anget –anget panas gitu waktu siang hari. Kebetulan temen kos juga tidak ada yang tahu kalau saya agak sakit. Sayapun berpikir halah ini paling ntar malem udah mendingan. Akhirnya, ujung-ujungnya tidur juga. Malam harinya kebetulan saya ikut kajian di MBM (masjid kampus STAN), dan itu memang sudah saya niatkan sejak beberapa hari yang lalu. Walaupun suhu badan ga turun-turun, kalau pengen ikut ya tetep aja ikut. Kalau tidak salah, tema kajian malam itu adalah “Tata cara pergaulan bukan muhrim di dunia nyata dan dunia maya”. Tema yang tidak bisa dilewatkan untuk remaja seumuran saya (buktinya yang ikut kajian banyak sekali, sampai kakak tingkat yang sudah wisuda yang telah menjalani psikotest pagi harinya pun banyak yang menyempatkan diri mengikuti kajian malam itu). Setelah kajian, sayapun menyempatkan diri untuk meng-update blog (masih sempet-sempetnya ini orang).
Oke, Sabtu pagi terasa ada gejala mau sakit, Sabtu malam suhu badan panas, dan Ahad pagi suhu badan tidak turun-turun ditambah pusing-pusing, lidah terasa pahit kalau makan, dan badan lemas. Akhirnya teman kosan menyadari juga bahwa saya sedang sakit, dan menyarankan saya untuk segera berobat ke dokter. Sampai Ahad malam pun badan tetap panas, lemas, dan pusing. Diagnosa sementara saya mungkin saya terkena thypus atau DBD (Naudzubillahimindzalik). Akhirnya Ahad malam saya meminum sisa obat (baca: paracetamol) yang diberikan dokter poliklinik kampus sebulan yang lalu (baru sebulan lalu saya sakit, sekarang sakit yang lain lagi). Alhamdulillah Senin paginya suhu badan menurun, dan pusing di kepala pun berkurang.
Kebetulan jadwal kuliah hari Senin di kelasku kosong alias free. Sayapun pergi ke poliklinik kampus. Setelah diperiksa, akhirnya diberi obat (ya iya lah...). Alhamdulillah kondisi badan semakin membaik. Ternyata diagnosa saya salah. J (maklum saya bukan dokter).
Selasa, hari yang melelahkan untuk kelasku. Bayangkan, kuliah 8 sks tanpa istirahat. Sudah kondisi badan agak kurang sehat ditambah kuliah 8 sks dengan tugas-tugas yang telah diberikan dosen. Untungnya saya sudah mengerjakan tugas tersebut sejak hari Sabtu kemarin waktu badan mulai agak anget. Hehehe....jadinya udah lega. J
Selesai kuliah, saya ditelepon oleh pihak Rodalink BSD lagi. Singkat cerita, pihak Rodalink BSD menyuruh saya untuk segera mengambil hadiah sepeda tersebut Rabu besok. Huft...capek, lelah, tapi dibawa enjoy aja lah. Saya tahu diri, kalau saya ini sedang sakit, baru Senin kemarin periksa, hari Rabu disuruh mengambil hadiah. Ya sudah, Bismillah saja. Hari Rabu kuliah 6 sks, berarti saya punya kesempatan ke BSD sekitar pukul 14.30 WIB.
Setelah berusaha mengajak teman untuk menemani, alhasil tidak ada yang bisa diajak. Mereka semua pukul segitu masih ada kuliah. Ya sudah, berangkat sendirian aja gak apa-apa. Bismillahirrohmanirrohim.
Setelah selesai kuliah bersama Pak Rahim (Makro) dan Pak Zaffi (AkPem 1), saya langsung tancap gas ganti baju ke kosan, mengganti seragam kuliah dengan kaos belel, tetapi tetap dengan celana seragam kuliah, dengan posisi tas melintang ke kanan. Menghadang angkot C09 menuju Jalan Veteran. Tak lama kemudian naik bus Agramas. Alhamdulillah sampai juga di Rodalink BSD. Di sana saya menanyakan ini dan itu dan menyerahkan syarat-syarat pengambilan hadiah. Sambil menunggu hadiah tersebut dipasang dan dirakit, saya pun menyempatkan diri melihat-lihat aksesoris sepeda. Tak lama kemudian sepeda sudah dirakit sudah bisa digunakan.
Kebingungan mendera saat hendak pulang ke kos. Kalau naik bus Agramas kata kernetnya gak bisa, karena penumpang penuh dan sepedanya bukan tipe sepeda lipat. Kalau sepeda lipat sih gak apa-apa dan boleh naik katanya. Ya sudah, jalan terakhir adalah naik kereta rel listrik (KRL) dari stasiun Serpong dengan bersepeda. Tapi di mana letak stasiun tersebut dari BSD. Bingung, bingung, dan bingung.
Akhirnya saya menanyakan tukang ojek di depan Rodalink. Kata abang-abangnya, saya disuruh mengikuti jalur angkot 03 warna hijau kebiru-biruan (kalau saya menamainya warna ijo endhog). Karena kata abang tukang ojek tersebut, angkot tersebut akan menuju Pasar Serpong, dekat Stasiun Serpong.
Kayuh demi kayuh kulakukan, gedung demi gedung kulalui, dari gedung Blitzmegaplex sampai perumahan-perumahan yang diiklankan oleh Feni Rose di televisi (maaf, saya bukan bermaksud ngiklan). Lama mengayuh, saya kehilangan jejak angkot 03 tersebut. Waduuuhh..., jangan-jangan saya kesasar. Felling saya begitu, karena sepertinya saya pernah melalui jalan tersebut. Sontak saya kaget, ya betul sekali. Saya pernah melalui jalan tersebut saat saya dauroh LDK IMM di Puspiptek Serpong. Itu adalah jalan menuju Puspiptek Serpong. Oalahhh....saya langsung bertanya seseorang dipinggir jalan. Katanya masih jauh karena saya dari tadi melawan arah ke Stasiun Serpong.
Tiap ada orang di simpangan jalan, saya tidak segan-segan untuk bertanya. Mulai dari abang sopir angkot yang ngetem, ibu-ibu pegawai PNS Pemkot, abang tukang ojek, sampai Mbak-mbak yang sedang menghadang angkot. Hehehe...ternyata betul peribahasa “Malu bertanya sesat dijalan” dan “banyak bertanya, memalukan”. Kira-kira tindakan saya tersebut termasuk digolongkan peribahasa pertama atau ke dua ya?
Dan sampai akhirnya, saya menemukan jejak si angkot 03, Alhamdulillah. Rasanya saya benar-benar menjadi bolang (baca: bocah ilang) dan membolang (baca: mBolang). Kulihat jama di ponsel, dan ternyata Ya Allah sudah pukul 16.15 WIB. Belum ketemu Stasiun Serpong, belum sholat Ashar. Di sepanjang perjalanan mencari Stasiun Serpong, saya tidak menemukan masjid atau mushola sekalipun. Astaghfirullah, kawasan sih elit tapi bangun masjid aja pelit. Parah!!!
Dengan kekuatan dan kecepatan penuh saya mengayuh sepeda (pasang gigi 6) mengalahkan motor dan mobil. Bisa dibayangkan kan? Untungnya saya tidak begitu capek bersepada, karena memang hobi saya bersepeda. Saat kuliah di UGM saja saya PP (44 km) naik sepeda onthel dari rumah-kampus.
Akhirnya pukul 16.45 WIB saya sampai di Stasiun Serpong. Niatnya mau sholat Ashar dulu, tapi saya ingat KRL AC terakhir sebelum maghrib dari Serpong kalau tidak salah sekitar pukul 16.50 WIB. Masih ada waktu 5 menit, bisa buat beli tiket.
Masya Allah, stasiun ini bertingkat, banyak anak tangganya pula. Aduh, terpaksa saya bawa sepeda naik ke atas untuk sekedar membeli tiket, dan menurunkan sepedanya (lagi) ke bawah waktu naik kereta. Di loket tiket, saya membeli tiket KRL AC, lebih mahal sedikit gak apa-apa, dalam pikiranku yang penting cepat sampai kos, cepat pulang, dan mau sholat.
Dalam perjalanan di dalam kereta, hati saya selalu was-was, khawatir KRL yang saya naiki melaju lama. Alhamdulillah setelah melalui berbagai stasiun, sampai juga di stasiun Pondok Ranji. Stasiun yang paling dekat dengan lokasi Kampus dan kosanku. Setelah turun dari KRL tadi saya langsung tancap gas, kayuh demi kayuh saya lakukan, gedung demi gedung saya lalui. Baru sampai Bintaro Plaza, baru sampai Bintaro Sektor III, akhirnya sampai perumahan Pondok Jaya, dan Alhamdulillah akhirnya sampai Bintaro Sektor V, dan saya berada di depan gerbang utama kampus STAN. Tak lama kemudian, akhirnya saya sampai di kosan. Alhamdulillah waktu Ashar masih ada (waktu itu jadwal sholat maghrib untuk wilayah Kota Tangerang Selatan sekitar pukul 18.10 WIB). Sungguh mBolang yang melelahkan dan mengesankan buatku.
Berikut rincian biaya mBolang hari Rabu, 14 Desember 2011:
- Naik angkot C09 (dari gerbang Kampus-Veteran) : Rp 3000 (pergi)
- Naik bus Agramas (dari Veteran-BSD) : Rp 4000 (pergi)
- Naik sepeda (dari BSD-Stasiun Serpong) : GRATIS (pulang)
- Naik KRL AC (dari Stasiun Serpong- Stasiun Pondok Ranji) : Rp 6000 (pulang)
- Naik sepeda (dari Stasiun Pondok Ranji-Kos) : GRATIS (pulang)
- Total cost : Rp 13000
Sampai akhirnya, sayapun lupa makan dan minum obat dari dokter (siang sebelum mBolang). Tetapi Alhamdulillah gak kenapa-kenapa. Alhamdulillah beberapa hari kemudian saya sehat kembali. :-D
Ini ceritaku, mana ceritamu? (halah...)






2 komentar:
wauwauwaw...hhahaha, slamat ya sepeda barunya..jadi ngiler deh
haha...iyo Din. Alhamdulillah..
eh, kapan KKN? Dapat di daerah mana?
Posting Komentar