Selasa, 22 April 2014

HARMONI ALAM HUTAN PINUS MANGUNAN BANTUL

Kali ini saya akan berbagi cerita tentang pengalaman saya dan sekaligus hobi saya yaitu bersepeda dan berpetualangan. Bersepeda merupakan kegemaran saya sejak saya remaja (awal SMP). Waktu SMA dulu, saya pulang-pergi (kurang lebih 9 km) naik sepeda jengki dari rumah ke sekolah. Waktu itu teman-teman saya hampir 90% mengendarai sepeda motor ke sekolah. Karena saya gak punya motor, yaudah selama 3 tahun di SMA ngonthel pit jengki. Hehehe... Hmmm...adakah perasaan malu dan minder saat itu? Ada sih dulu, tapi sedikit. Terus lama-kelamaan biasa aja tuh. Malah bangga dong yang lain nyumbang polusi udara, sedangkan saya go green *aseeeek

Eh, kok malah ngelantur ke zaman baheula sih? Sudah, sudah, ini kan niatnya mau cerita kemarin pas hari Selasa, 15 April 2014 (pas banget sepekan yang lalu) saya dan teman saya Putut dan Adit gowes ke Hutan Pinus di Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Berkesan banget lah gowes pertama kalinya ke sini.

Saat itu, pagi ba'da subuh saya bersiap-siap untuk gowes menuju hutan pinus. Sudah bisa dibayangkan sih, akses untuk menuju tempat ini agak sedikit butuh perjuangan. Apalagi jika ke sana hanya menggunakan sepeda saja. Untuk informasi, hutan pinus terletak di dataran tinggi Kabupaten Bantul sebelah timur, berbatasan langsung dengan Kabupaten Gunung Kidul di sebelah timur. Akses jalan sudah bagus karena sudah aspal, bukan jalan bebatuan. Tapi medan jalan yang berlika-liku dan curam membuat jalanan ini sedikit ekstrim. Apalagi jika ke sini saat malam hari. Beuh, jalanan sepi, naik turun, curam, gelap gak ada lampu. Pokoke mantap deh.

Saya pergi dari rumah sekitar pukul 06.00 WIB dan berkumpul di Bok Ampera Jalan Samas dengan kedua teman saya. Saya hanya menggunakan training panjang, kaos double (dalaman kaos biasa, luaran kaos jersey sepeda), bawa hape dan dompet. Udah gitu aja. :| Padahal Adit dan Putut bawa tas, topi, dan air minum. Sebelum lanjut berangkat kami sempat makan kudapan yang Putut bawa, yakni arem-arem. Untunglah, Putut bawa banyak jadi bisa buat dimakan saat lapar di tengah perjalanan nanti. :p

Di tengah perjalanan menuju hutan pinus biasa saja, jalanan agak sepi karena hari itu adalah hari ke dua ujian nasional tingkat SMA/MA/SMK/sederajat. Kayuh demi kayuh kami hadapi, hangatnya sinar mentari kami rasakan, sejuknya semilir angin kami hirup. Ah, indahnya kampungku ini, Bantul berbeda sekali dengan kehidupan di Jakarta yang carut-marut. Udah gitu aja. Sesampainya di Jalan Imogiri Timur, kami menyempatkan diri untuk mampir ke Pasar Imogiri. Kami membeli 3 buah tiwul ayu. Tiwul ayu adalah makanan khas daerah ini yang terbuat dari singkong, dicampur dengan parutan kelapa dan gula merah, dibentuk bulat pipih. Berikut penampakannya:

tiwul ayu

Setelah selesai membeli tiwul ayu, kami langsung melanjutkan perjalanan ke hutan pinus. Hmm...jalanan mulai nenanjak, sekali tanjakan kuat dong, wow ada lagi tanjakan landai, alhamdulilllah masih kuat. Daaaan....tara....tanjakan menikung di depan mata. Kaki udah capek gak tahan mau ngayuh sepeda. Ok, fine, saya dan Putut akhirnya mendorong sepeda saja, sedangkan Adit, masya Alloh sudah jauh di atas mengayuh sepeda. Maklum lah saya dan Putut kan baru kali ini gowes ke dataran tinggi yang curam, biasanya kan cuma gowes di dataran rendah aja kayak Jakarta dsb (*halah bilang aja ga kuat, pake alasan segala -_-). Di sela perjalanan, kami mendapatkan pemandangan indah Makam Raja-raja Mataram di Imogiri dari atas. Berikut penampakannya:
makam raja-raja Mataram dilihat dari atas (*eh ada yang kefoto. Itu Adit lho, bukan saya dan bukan Putut :p )

Perjalanan masih panjang, kami mengayuh sepeda dengan pemandangan kanan dan kiri yang begitu mempesona, hawa dingin menyambut kami karena kerindangan pepohonan hijau dan asri masih indah terawat. Tak lupa kami pun mengabadikan momen tersebut (*narsis). Foto saya sensor ntar takutnya pada klepek-klepek pas ngelihat saya (*minta dipukul).

Perjalanan masih panjang, tapi kami tidak boleh menyerah, masa masih bujang udah nyerah! Ga boleh dong :v Oke, akhirnya sampai di atas juga dan sebelum melalui kantor kelurahan Desa Mangunan, kami menyempatkan diri untuk berisitahat sejenak untuk makan sisa arem-arem yang Putut bawa tadi, sekaligus meneguk air putih yang masya Alloh sangat nikmat, karena minum pas waktu sangat haus. Sembari mengobrol ngalor-ngidul entah dari masalah rencana gowes ke depan, pekerjaan, sampai perjodohan (*paling hot nih) kok bisa nyambung dan berkaitan. hahaha dasar, sesama bujangan sih jadi pasti klop. *eh.

Sesudah itu, kami pun tiba di depan Kantor Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul. Sampai di sini ngapain? ya foto-foto lah masa ngegalau. Kebetulan di depan kantor desa terdapat papan informasi potensi wisata yang ditawarkan oleh desa wisata ini. Jadi, kalau Anda-anda sekalian bingung mau liburan di Bantul yang murah meriah, seru, dan bernuansa alami, maka cocok banget deh harus coba ke Desa Mangunan ini. Berikut penampakannya:

Papan Kantor Desa Mangunan
Papan Potensi Desa Wisata Mangunan

Setelah itu kami naik ke atas dengan susah payah, jalanan yang berkelak-kelok itu sangat menantang ditambah beratnya kayuhan sepeda yang membuat betismu jadi kuat berotot. Tapi sekeras apapun usaha saya dan Putut mengayuh sepeda ke atas, ujung-ujungnya ya dituntun juga. Hadeuuh -_-" Oke, akhirnya sampai juga di depan pos polisi hutan. Di sini pepohonan rindang dan asrinya alam begitu membuat pikiran segar. Jauh sekali dari hiruk-pikuk keramaian ibu kota. Segar dan membuat pikiran jadi tenang.
Papan larangan memburu satwa liar di hutan lindung dekat dengan Pos Polisi Hutan Desa Mangunan

Akhirnya usaha kami terbalaskan dengan sampainya kami di hutan pinus. Setelah perjalanan yang ditempuh sekitar 3 jam bersepeda dengan lebih banyak mendorong sepedanya. Kulihat di kanan dan kiri pohon pinus begitu rindang sejuk dan kokoh. Masya Alloh, indah sekali. 
Ceritanya pamer sepeda :p

Pamer sepeda lagi :p

Di hutan pinus ini kami istirahat sembari keliling-keliling ke tengah hutan. Kami menaiki jalan setapak dan sampai akhirnya kami berada di atas bebatuan yang pemandangan di bawah saat itu adalah hamparan hutan hijau sebelah tenggara sekat Gunung Kidul. Sayang sekali tidak bisa foto, karena baterai hape Putut lowbet. hiks :'( Di sini kami menemukan belalang dengan corak warna terang oranye berbintik-bintik hitam yang indah. Kalau saya baru pertama kali melihat belalang jenis ini. Setelah itu kami nekat menelusuri hutan bagian dalam. Hutan di sini banyak rerumputan dan ilalang seperti tidak terjamah manusia, tidak seperti hutan di sebelah luar yang memang ditujukan untuk wisata alam. Beratus-ratus pohon pinus tumbuh di hutan yang masih asri ini. Tapi sayang, ternyata batang pohon pinus ini disadap untuk diambil cairan karetnya dan benda sadapan tersebut tergeletak saja tidak teurus. Mungkin sudah lama alat penyadap itu tertempel di batang pohon pinus ini, dan tidak diambil atau tidak diperhatikan oleh si penyadap. Saya khawatir jika hal ini terus-menerus terjadi, maka hutan pinus akan mati kering, tumbang, dan punah. Naudzubillah :(


Setelah puas menjelajahi hutan pinus bagian dalam kami pun beranjak pulang karena waktu menunjukan pukul 11.00 WIB. Hmmm...kejadian yang sangat mengingatkanku pada harusnya berhati-hati dalam perjalanan terjadi saat itu. Karena kami tadi mendorong sepeda sampai atas hutan dengan susah payah dan capek, kami berniat untuk melampiaskan bersepeda turun di jalanan. Alih-alih menikmati perjalanan turun, jalan yang dilalui berkelok-kelok, curam, dan berbahaya sehingga sepeda tidak digowes pun bisa santer berjalan. Saya pun hilang kendali, sepeda yang saya naiki turun begitu cepat, cepat dan akhirnya saya tidak bisa mengendalikan sepeda yang saya tunggangi. Dan akhirnya saya jatuh terpleset terguling bersamaan dengan sepeda saya, sehingga kepala saya terbentur batu dan akhirnya terluka. Darah pun bercucuran di kepala, tidak tersa sakit saat itu, tapi lama-kelamaan perih. Di saat itu pula terdapat bapak-bapak yang baru saja pergi dari pasar dan akan pulang ke rumahnya. Putut dan Adit meminta izin untuk berboncengan dan mengantarkan saya ke puskesmas terdekat. Lalu bapak itu menolong saya membawa saya ke puskesmas terdekat, yakni Puskesmas Dlingo II.

Sesampainya di Puskesmas Dlingo II, luka-luka di tubuh saya dibersihkan oleh dokter dan kepala saya dijahit. Kebetulan saya terluka di pundak bagian kiri dan kepala kiri bagian belakang. Alhamdulillah, kejadian itu begitu cepat dan akhirnya kepala saya selesai dijahit. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Putut dan Adit yang telah membantu saya untuk ke Puskesmas, dan tidak lupa saya ucapkan terima aksih kepada bapak-bapak tadi. Terima Kasih banyak Pak, semoga Bapak sekeluarga selalu dalam lindungan Alloh. Aamiin. Untungnya tidak usah menginap, cukup kontrol ke Puskesmas terdekat saja sampai luka di kepala benar-benar sembuh, kata dokter. Adit menelepon ayahnya yang kebetulan sedang bermain di daerah Imogiri. Ayah Adit beserta keluarganya menjemput saya di Puskesmas Dlingo II menggunakan mobil. Akhirnya sampai rumah saya harus naik mobil, dan salah satu sepeda dari kami bertiga harus dibongkar agar bisa masuk ke dalam mobil yakni sepeda Putut. Akhirnya kejadian itu begitu cepat, saya pun berterima kasih kepada Keluarga Adit yang telah membantu saya untuk pulang ke rumah. Alhamdulillah masih bisa jalan dan gak geger otak. :)

Sore itu, Adit dan Putut mampir ke rumah saya, dan kami pun tertawa-tawa mengingat kejadian tadi (*emang dasar lah). Wkwkwkwk.... Setelah kejadian itu, saya mengerti pentingnya hati-hati dalam perjalanan, dan pentingnya helm sepeda. Ya, helm sepeda itu penting. (*brb langsung pengen beli). Paginya beuuuh, badan terasa remuk dan berat. Tapi pagi itu juga saya harus melatih otak saya agar bisa terus berpikir, melatih ingatan, dan agar tidak terjadi apa-apa. Oleh sebab itu, saya berusaha menulis cerita tentang kejadian yang saya alami tempo hari bersama kedua teman saya dan saya posting cerita tersebut di blog ini, yakni mengenai jalan-jalan saya ke Kaliurang dan Kaliadem. Saya berusaha keras untuk berpikir dan menuangkan ingatan saya agar otak saya terlatih dan tidak terjadi apa-apa akibat benturan kemarin.

-SELESAI-

0 komentar: