Rabu, 16 April 2014

KALIURANG DAN KALIADEM, PESONA MENGGODA DI KAKI GUNUNG MERAPI

Sebelumnya ini hanya coretan pengalaman saya saja. Bukan tentang ilmu pengetahuan maupun ilmu syar'i. Sesekali menulis pengalaman pribadi yang berkesan tidak salah bukan? Oke, jadi begini ceritanya. Tempo hari, Jumat, 11 April 2014 saya dan dua teman sekaligus saudara saya, Putut dan Yuppy berencana untuk main ke obyek wisata Kaliurang di kaki Gunung Merapi, Sleman, DI Yogyakarta. Kami berencana berangkat sejak pagi hari, namun karena cuaca di daerah tempat tinggal Putut hujan deras, kami berdua menunggu hujan reda dan akhirnya berangkat dari daerah kami sekitar pukul 10.00 WIB menggunakan sepeda motor.


Tak terasa, kami berdua sudah sampai di daerah Jalan Solo, Kalasan, Sleman. Kami berdua hendak menghampiri rumah teman kami, Yuppy sekaligus menumpang sholat jumat di dekat rumah dia. Tapi, kenyataan tak semulus apa yang kami rencanakan. Jarum jam padahal telah memberikan isyarat dalam waktu dekat sudah masuk waktu sholat jumat. Karena Putut lupa jalan menuju rumah Yuppy dan saya sendiri belum pernah main ke rumah Yuppy, alhasil kami kebingungan dan hanya berputar-putar di daerah Jalan Solo, Kalasan, sembari menunggu jawaban ponsel Yuppy agar ia mengangkatnya dan menjemput kami berdua.

Saat kami berputar-putar mengelilingi Jalan Solo di daerah Kalasan, ada kejadian lucu dan unik yang kami rasakan. Saat hendak melewati lampu merah sesudah Rumah Sakit Militier (saya tidak tahu nama tempatnya), ada sosok orang setengah waras yang meludahi setiap pengguna jalan yang berhenti di lampu merah tersebut. Cuh...cuh..cuh..tembakan air liur pun mengenai beberapa pengguna jalan, mulai dari mobil pick up, bis kecil, pesepeda motor, dan yang paling menggelitik adalah mengenai teman saya, Putut. Sontak saya langsung menghindar ke arah kanan jalan agar tidak terkena 'tembakan' air liur dari orang tersebut karena saya berada jauh di belakang Putut, dan akhirnya saya pun tidak terkena 'tembakannya'. Setelah itu saya tertawa keras dan muka Putut pun merah karena malu terkena 'tembakan maut' sang setengah waras.

Setelah kejadian itu, akhirnya ponsel Yuppy pun diangkat dan kami berdua dijemput untuk selanjutnya singgah sejenak di rumahnya. Pas sekali, sampai rumahnya, kami langsung menuju masjid terdekat untuk menunaikan ibadah sholat jumat. Setelah selesai beribadah, kami istirahat sejenak di rumah Yuppy dan bertemu dengan keluarganya. dan setelah itu taraaaa....makanan pun disajikan. Sebenarnya kami malu untuk menyantapnya karena takut merepotkan, tetapi apa daya kami 'dipaksa' untuk makan, ya sudah deh kami makan. (*alibi doang, padahal pada mau ambil semua makanan yang terhidang dan menaruhnya di dalam tas, jangan ditiru ya...wkwkwkwkwk) :p

Setelah makan dan selesai ngobrol 'ngalor-ngidul' dengan keluarga 'emmas' ini, kami pun langsung meminta izin kepada Ayah dan Bundanya untuk 'menculik' Yuppy main bersama kami. Kami berangkat pukul 14.00 WIB, dan berjalan menuju tempat tujuan kami, Kaliurang. Beberapa kilometer lagi, kami akan memasuki pintu masuk Kaliurang yang dijaga oleh beberapa orang untuk membayar retribusi tiket masuk. Tapi apa daya, karena posisi saya di belakang mereka (Putut dan Yuppy berboncengan), dan kebetulan saya terkena musibah ban bocor, mereka berdua 'bablas' naik ke atas, dan saya mendorong motor saya yang bocor untuk mencari bengkel terdekat. Beruntung sekali, alhamdulillah saya menemukan bengkel tak jauh dari lokasi ban saya bocor.



Peta Kaliurang dan Kaliadem, Sleman, DI Yogyakarta

Bengkel yang saya temukan kecil daripada bengkel rata-rata yang ada. Si empunya bengkel pun terlihat seperti ustadz karena berjenggot lebat sekali. Saya pun langsung meminta tolong agar beliau menambal ban saya yang bocor. Setelah dibuka dan dilihat, ternyata ban saya bocor kecil-kecil dalam jumlah yang banyak. Sepertinya tidak memungkinkan jika menambalnya, karena bocornya banyak sekali dan lubangnya kecil-kecil, akhirnya saya pun memutuskan untuk mengganti ban dalam saja. Sempat ngobrol-ngobrol dengan beliau, tapi saya lupa menanyakan nama beliau. Beliau mengira saya adalah salah satu ustadz muda yang mengajar di salah satu Pondok Pesantren di Kaliurang. Langsung saja saya bilang bukan, saya ke Kaliurang hanya untuk sekedar main melepas rasa penat setelah setengah tahun lebih bekerja di Kantor Konsultan Pajak dan Kantor Akuntan Publik. Mungkin beliau mengira saya ustadz Pondok karena berjenggot, bercelana ngantung, dan memakai baju koko. Lalu kami berdua pun ngobrol-ngobrol dari masalah kecil di kehidupan sehari-hari sampai masalah perangai umahat sekarang ini. Ada banyak faedah dan nasihat yang bisa diambil dari percakapan tersebut.

"Mas, panjenengan ustadz di Pondok Pesantren Kaliurang itu ya?" tanya bapak tersebut.
"Bukan Pak. Saya cuma orang biasa, bukan ustadz kok" jawabku.
"Oh, saya kira ustadz Pondok, Mas. Kebetulan anak-anak saya juga di Pondok Pesantren (menyebut nama). Yang laki-laki di (menyebut nama) dan yang perempuan di (menyebut nama)." paparnya.
"Oh, iya to Pak?" jawabku sambil mengangguk-anggukkan kepala.

Dan percakapan itu pun langsung cair seketika. Mungkin kami punya frekuensi yang sama, makanya bisa nyambung (emangnya radio, kok punya frekuensi segala. hehehe). Dan sampai akhirnya saya bertanya kepada beliau.

"Pak, sekarang bapak ngaji di mana kalau saya boleh tahu?" salah satu pertanyaan yang meluncur dariku.
"Oh, saya dulu ikut liqo' Mas, sama orang kepanduan (baca: PKS), tetapi saya sekarang juga ngaji di beberapa tempat (menyebutkan beberapa tempat), terus mendengarkan radio kajian juga, dan kajian itu gak hanya di majelis ilmu saja, bahkan di tempat manapun bisa, ya seperti kita ini, ngobrol-ngobrol dengan orang berilmu dan mendapatkan nasihat dan faidah dari percakapan ini yang sesuai dengan kebenaran (Al Qur'an dan Sunnah)" jawabnya.
"Oh, begitu Pak" saya pun tertegun.

Tak terasa penggantian ban dalam pun selesai, pas sekali dengan terdengarnya kumandang sholat ashar. Sebelum kami berpisah, bapak itu berkata kepadaku:

"Mas, jika selama saya ngobrol sama njenengan banyak kelirunya dan lidah saya banyak kepleset sehingga menyakiti hati mas, saya mohon maaf ya mas. Ini taqdir Alloh telah menemukan kita hari ini jam ini, semoga kita bisa dipertemukan kembali di lain waktu karena Alloh ya mas. Kalau main ke Kaliurang monggo jangan segan-segan mampir ke tempat saya lagi ya mas" ucapnya.
"Begitu pula dengan saya ya Pak, banyak salahnya dan mohon maaf. Iya Pak Insya Alloh." jawabku.

Setelah itu kami pun berpisah, dan saya melanjutkan perjalanan menuju Kaliurang. Yuppy dan Putut pun menunggu kami di depan pintu masuk Kaliurang yang tak begitu jauh dari lokasi kejadian dan kebetulan di sana terdapat masjid. Alhamdulillah belum iqomah, dan kami bisa mendapatkan sholat berjamaah dengan takbir pertama imam. Setelah selesai sholat, kami melanjutkan naik ke atas untuk segera melihat karunia Alloh yang begitu besar atas cipataanya yang sangat indah. Namun sayang kami sampai di atas pukul 15.40 WIB, tinggal 20 menit lagi obyek wisata ditutup. Hmmm, daripada sedih dan galau kami pun mengegas motor kami ke arah Kaliurang yang lain yang terdapat air terjunnya, dan di tengah jalan, kami mengubah niat kami untuk menyambangi obyek wisata lainnya yang tidak begitu jauh dari Kaliurang, yaitu objek wisata Kaliadem. Dengan melewati lapangan golf merapi kami pun berhasil menembus ke arah Kaliadem.

Kaliadem adalah obyek wisata saksi bisu atas dahsyatnya erupsi merapi yang telah meluluh lantahkan pemukiman warga sekitar daerah Cangkringan, di kaki gunung merapi. Kaliadem yang dulunya sempat luluh lantah tak ada bangunan dan pepohonan sedikitpun, kini berkembang sebagai destinasi wisata baru di kaki gunung merapi dengan banyak bangunan semi permanen yang menjajakan makanan, minuman, dan cinderamata khas dengan ditumbuhi pepohonan yang rindang.

Kami yang rencananya ingin bermain ke bekas rumah Mbah Maridjan yang luluh lantah akibat lahar merapi, sontak langsung membatalkannya, karena harus membayar beberapa rupiah yang menurut kami agak mahal jika ingin naik ke atas. Akhirnya kami hanya bermain di dekat gerbang pintu masuk loket pembayaran. Tapi tak mengapa, panorama di lingkungan ini tak kalah jauh indahnya dengan panorama di dekat bekas rumah Mbah Maridjan. Kami pun sempat mengabadikan gambar panorama indah tersebut, namun sayang cuaca berkabut dan mendung tanda akan turunnya hujan deras. Berikut panorama kaliadem yang dapat diabadikan:





Baru beberapa panorama yang diabadikan, hujan deras pun turun dengan disambut kabut yang begitu tebal tak lupa lantunan suara petir dan kilat menggelegar menambah 'horornya' tempat tersebut. Kami pun berlarian menuju tempat aman, yakni di tenda semi permanen untuk berdagang warga sekitar yang tidak digunakan. Sekitar 1 jam kami berteduh di tenda tersebut. Hujan begitu deras sehingga membuat air dari atas gunung mengalir yang cukup banyak dan deras ke tempat yang lebih rendah. Akibatnya motor yang saya parkir di pinggir jalan pun jatuh dan mengakibatkan spion saya agak sedikit rusak, alhamdulillah untungnya tidak masuk jurang. Tak sampai di situ, karena hujan tidak berhenti-henti kami bertiga nekat pulang dengan bermantelkan seadanya. Ternyata setelah turun, daerah di bawah tidak hujan deras, hanya gerimis kecil saja.

Sesampainya di daerah Ngaglik, Sleman, Jalan Kaliurang kami berhenti sejenak untuk menunaikan ibadah sholat maghrib. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah Yuppy di daerah Kalasan. Sampai di daerah Kalasan, kami pun 'bablas' sampai kompleks Candi Prambanan dan ke arah timur sampai daerah Klaten. Kebetulan adzan isya sudah berkumandang, Yuppy pun mengajak kami sholat di Masjid Hidayat Nur Wahid (kata Yuppy namanya masjidnya itu) di Jalan Solo, Prambanan, Klaten. Setelah selesai, kami langsung menuju rumah makan (entah kami akan makan apa tidak tahu) sampai Yuppy mengajak kami 'dinner' di rumah makan yang menyediakan menu nasi mercon. Terdengar unik dan aneh memang. Nasi mercon adalah nasi biasa, dengan lauk daging yang diolah pedas sedikit manis menggunakan bumbu cabai dan merica sehingga siapapun yang menyantapnya akan ketagihan karena sensasi pedas, panas, dan aromanya yang menggoda.

Sampailah kami di rumah makan nasi mercon di bilangan Jalan Solo, Kalasan. Kaget bukan kepalang, harga satu porsi nasi mercon di sini murah (pake banget). Kami bertiga yang sebelumnya kerja di Kantor Konsultan Pajak dan Kantor Akuntan Publik di bilangan Sudirman, Thamrin, dan Kuningan Jakarta yang harga makanannya terbilang mahal, merasa ajaib melihat daftar harga menu yang disajikan (*sok banget sih kami bertiga). Murah sekali, bayangkan harga satu porsi nasi mercon hanya IDR 8.000, nasi kikil IDR 8.000, soto daging IDR 8.000, bakso spesial jumbo IDR 12.000, es jeruk IDR 2.000, susu panas IDR 2.500, dan masih banyak lagi. Berikut penampakannya:


nasi mercon


nasi mercon dan soto daging

Kami bertiga pun memesan 3 porsi nasi mercon, 2 gelas jeruk panas, 1 susu panas, dan 1 porsi bakso spesial jumbo (untuk dimakan bersama :D ). Belum puas dan belum kenyang karena kedinginan akibat hujan deras turun di Kalasan, kami bertiga pun memesan kembali, tapi kali ini 'hanya' memesan 1 porsi nasi mercon dan 2 porsi soto daging. Porsinya cukup banyak sebetulnya, mungkin karena kami kelaparan jadi agak beringas sedikit hehehe :p Alhamdulillah kenyang sudah. Akhirnya walaupun hujan deras, kami tetap bertekad untuk pulang karena jam menunjukkan pukul 20.30 WIB.

Kami pun memulangkan Yuppy ke pangkuan keluarganya setelah setengah hari kami 'culik'. hahahaha... :p dan sekalian saya dan Putut berpamitan kepada keluarga Yuppy tersebut. Selanjutnya kami pulang. Taraaaa....saya sendiri sampai rumah sekitar pukul 21.45 WIB dengan pakaian basah kuyup.


-SELESAI-

1 komentar:

hahaha...
lucu n seru yog pengalamannya, boleh juga tuh kaliurang n kaliadem, yuk kelompok 1 djpbers kesana jg :D

keep writing ^^